ERA disrupsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah mulai dirasakan di berbagai negara maju. Di antaranya pada sektor industri media massa berbasis cetak.
Laju penetrasi internet yang begitu masif menghasilkan beragam inovasi perangkat lunak berteknologi canggih yang memikat masyarakat. Mengakses informasi berupa berita kini tidak lagi harus dengan memegang puluhan lembar kertas berukuran besar. Walakin, pembaca cukup menggenggam telefon seluler pintar yang terkoneksi dengan internet.
Era disrupsi TIK bukan hanya bakal menggerus bisnis konvensional semacam media massa cetak, melainkan juga mengubah ekosistem dunia pendidikan, susunan baku lapangan pekerjaan, dan struktur interaksi antarmanusia.
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memperkirakan, datangnya disrupsi TIK ke dalam negeri bisa 5-10 tahun ke depan atau bahkan dimulai esok hari. Manfaat dan mudaratnya tidak bisa diukur secara pasti dan kapan akan terjadi. Yang jelas, era yang—oleh Kemenristekdikti—disebut Revolusi Industri 4.0 itu pasti datang ke Indonesia, cepat atau lambat.
”Contoh paling mudah yang sudah dirasakan dalam era disrupsi ini adalah perkuliahan tidak akan banyak secara tatap muka di kelas. Bisa melalui video conference, e-learning, dan distance learning. Kalau itu bisa dilakukan, perguruan tinggi harus mulai mencobanya. Ini yang harus kami lakukan, tetapi saya belum membuat regulasinya,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu 13 Desember 2017.
Ia mengatakan, dengan pola kuliah seperti itu, kurikulum pendidikan tinggi nasional tidak secara otomatis harus berubah.
Meskipun demikian, kompetensi para dosen sudah mutlak harus ditingkatkan. Pasalnya, kuliah e-learning akan mereduksi interaksi antara dosen dan mahasiswa.
Jika dosennya tidak mampu menjelaskan mata kuliah secara komperehensif dan jelas, mutu lulusan yang akan dipertaruhkan.
”Kompetensi dosen harus di-upgrade. Dosen yang tidak mau meng-upgrade diri pasti nanti ketinggalan,” tuturnya.
Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo menjelaskan, salah satu cara yang dilakukan Kemenristekdikti untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah merevitalisasi 12 politeknik.
Kemenristekdikti juga sudah menyempurnakan regulasi yang melegitimasi pendidikan jarak jauh. ”Nanti kami akan tambah lagi aturan-aturan yang menyesuaikan dengan perkembangan implementasinya,” katanya.
Ia mengatakan, Revolusi Industri 4.0 akan banyak ”memakan korban”. Pekerjaan yang dulu bisa dilakukan secara manual, ke depannya bisa dilakukan oleh mesin. Di lain sisi, datangnya era disrupsi ini juga akan melahirkan banyak profesi dan lapangan pekerjaan baru, termasuk membuka pendirian program studi baru di semua kampus.
Peran guru
Sisi lain dari menyiapkan lulusan adalah mempersiapkan pengajar. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebagai salah satu lembaga yang mencetak guru, memiliki tantangan berat untuk melahirkan guru yang mampu bersaing dan tahan banting pada era digital ini.
Generasi milenial seakan-akan tidak membutuhkan guru karena sumber ilmu pengetahuan yang melimpah. Namun, menurut Rektor UPI Asep Kadarohman, pada era apa pun, peran guru tidak akan tergantikan.
Era digital ini menghadapkan guru dengan peserta didik yang memiliki banyak pengetahuan. Mereka ini, kata Asep, perlu diarahkan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ia mengumpamakan peserta didik dengan banyak pengetahuan itu adalah bahan mentah yang belum diolah.
Guru adalah pembentuknya. Dengan demikian, guru harus mampu mengolah bahan mentah yang sudah bagus itu ke arah yang jauh lebih baik.
Diakui Asep, membentuk guru yang berkarakter cukup sulit. Ia membandingkan dengan guru-guru sebelum generasi Asep.
Diakui Asep, membentuk guru yang berkarakter cukup sulit. Ia membandingkan dengan guru-guru sebelum generasi Asep.
Guru-guru pada masa itu telah menetapkan tujuan untuk menjadi guru sejak sekolah menengah. Kendati demikian, Asep meyakini, masih banyak calon guru yang memang mengabdikan hidup untuk mendidik. Itu sebabnya, UPI telah menyiapkan sejumlah rancangan agar mampu mencetak guru berkarakter.
Salah satu yang telah disiapkan UPI adalah perubahan kurikulum seturut kebutuhan dan perkembangan. Kurikulum ini memanfaatkan multimedia. Selain itu, guru akan dibekali kemampuan mengenal teknologi sehingga tidak ketinggalan dari para peserta didik.
Ia berharap, keberadaan guru yang berkarakter itu akan menginspirasi para peserta didik untuk menjadi guru.
Cita-cita yang dipupuk sejak dini itu nantinya akan melahirkan guru berkarakter dan mendedikasikan hidup untuk mendidik.***
Assalamualaikum, saya mau bertanya, nah masuknya era 4.0an bagaimana cara menghadapi masuknya era tersebut? Terimakasih
BalasHapusMenurut saya, dalam menghadapi revolusi era 4.0 ini kita harus memiliki softskill berbantuan teknologi dengan mengikuti perkembagan teknologi digiral ini
Hapuswa'alaikumussalam. dalam menghadapi era 4.0an ini salah satunya kita harus memiliki softskill seperti yang dijelaskan oleh windi. selain itu kita harus banyak belajar dan serta meningkatkan kualitas diri
Hapusmenurut saya:
BalasHapus1. belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.
2. pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM.
3.pihak industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. “SistemIndustry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya
terimakasih sudah membantu menjawab
BalasHapusMenurut saya dalam memasuki era 4.0 di sini di butuhkan SDM yang memadai yang dapat membantu tenaga kerja agar dapat bersaing denga negara-negara luar.
BalasHapus