Isomer
Struktural
Variasi dalam struktur senyawa organic dapat disebabkan
oleh jumlah atom atau jenis atom dalam molekul. Tetapi variasi dalam struktur
ini dapat juga terjadi karena urutan atom yang terikat satu sama lain dalam
suatu molekul. Dua senyawa atau lebih yang memiliki rumus mplekul yang sama itu
meiliki urutan atom yang berlainan , maka mereka memiliki struktur yang
berlainan dan disebut isomer structural satu terhadap yang lain. Dimetil eter
dan etanol merupakan contoh sepasang isomer structural.
Alkana yang mengandung tiga atau kurang tidak mempunyai
isomer. Dalam tiapkasus hanya terdapat satu cara untuk menata atom-atom. Alkana
empat karbon mempunyai kemungkinan untuk menata atom karbon. Makin banyak atom
karbonnya, makin banyak isomernya. Rumus molekul C5H12 mempunyai
tiga isomer structural, C6H14 lima isomer dan C10H12
75 isomer.
Terikatnya suatu gugus fungsional pada posisi yang berbeda-beda dalam sebuah molekul
juga akam menghasilkan isomer structural (gejala terdapatnya isomer disebut isomeri
atau isomerisme). Alcohol, 1-propanol dan 2-propanol adalah isomer-isomer
structural yang sifatnya sedikit berbeda. Alkena: 1-butena dan 2-butena juga
merupakan isomer-isomer structural dengan sifat yang berbeda.
A.
Isomer atau Bukan
Molekul dapat bergerak dalam ruang dan berbelit serta
menekuk dalam gerakan seperrti ulat, seperti yang pernah digambarkan oleh
kekule. Kita dapat menulis struktur yang sama dengan sejumlah cara. Urutan
terlekatnya atom-atom merupakan faktor yang menentukan apakah dua rumus bangun
itu menyatakan isomer-isomer ataukah senyawa yang itu-itu juga.
B.
Suatu Cincin atau Ketidakjenuhan
Dari rumus melekul hidrokarbon sering dapat diperas
sejumlah keterangan mengenai strukturnya. Misalnya, semua alkana alsiklik mempunyai
rumus umum CnH2n+2, dengan n ialah banyaknya atom karbon
dalam molekul. Propane (CH3CH2CH3 atau C3H8)
mempunyai tiga atom karbon (n=3). Banyaknya atom karbon hydrogen ialah 2n+2
atau 8.
Adanya suatu
cincin atau suatu ikatan rangkap mengurangi banyaknya hydrogen dalam rumus
dengan dua untuk tiap ikatan rangkao atau cincin. Demikianlah senyawa dengan
rumus umum CnH2n mengandung baik satu ikatan rangkap
ataupun cincin. Senyawa dengan rumus umum CnH2n-2 dapat
mempunyai satu ikatan ganda tiga dua cincin, dua ikatan rangkap atau satu
cincin plus satu ikatan rangkap.
Sistem
Nomenklatur
Penamaan
unsur telah jauh sebelum adanya teori atom suatu zat, meski pada waktu itu
belum diketahui mana yang merupakan unsur, dan mana yang merupakan senyawa.
Ketika teori atom berkembang, nama-nama unsur yang telah digunakan pada masa
lampau tetap dipakai. Misalnya, unsur “cuprum” dalam Bahasa Inggris dikenal
dengan copper, dan dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah tembaga.
Contoh lain, dalam Bahasa Jerman “Wasserstoff” berarti “hidrogen”, dan
“Sauerstoff” berarti “oksigen”.
Nama resmi dari unsur kimia
ditentukan oleh organisasi IUPAC. Menurut IUPAC, nama unsur tidak diawali dengan huruf
kapital, kecuali berada di awal kalimat. Dalam paruh akhir abad ke-20, banyak
laboratorium mampu menciptakan unsur baru yang memiliki tingkat peluruhan cukup
tinggi untuk dijual atau disimpan. Nama-nama unsur baru ini ditetapkan pula
oleh IUPAC, dan umumnya mengadopsi nama yang dipilih oleh penemu unsur
tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kontroversi grup riset mana yang asli
menemukan unsur tersebut, dan penundaan penamaan unsur dalam waktu yang lama
Pada
awalnya, penamaan senyawa di Kimia didasarkan oleh banyak hal, seperti nama
tempat, nama orang, atau sifat tertentu dari senyawa yang bersangkutan.
Misalnya pada penamaan amonium klorida (NH4Cl) yang awalnya
dinamakan salmiak. Nama ini awal
mulanya diperoleh dari kotoran sapi di dekat kuil untuk dewa Jupiter Ammon di Mesir.
Cara
penamaan seperti itu jelas tidak dapat dipergunakan lagi. Mustahil bagi kita
untuk menghafalkan jutaan nama jika setiap nama berdiri sendiri, tanpa aturan
tertentu. Untuk mengatasi masalah tersebut, himpunan kimia sedunia yang dikenal
dengan IUPAC (International Union of Pure
and Applied Chemistry) telah merumuskan tata nama senyawa kimia. Nama yang
didasarkan pada aturan IUPAC ini kita kenal sebagai nama IUPAC. Di samping nama
IUPAC, banyak juga senyawa kimia yang mempunyai nama lazim, yaitu nama yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia perdagangan.
Isomer
Pada Alkana
Keisomeran
pada senyawa alkana tergolong keisomeran struktur, yaitu perbedaan kerangka
atom karbonnya. Semakin panjang rantai karbon, semakin banyak pula kemungkinan
isomernya. Keisomeran rangka senyawa alkana dimulai dari senyawa butana
(C4H10). Senyawa CH4, C2H6, dan C3H8 tidak memiliki isomer. Pertambahan jumlah
isomer ini tidak ada aturannya. Selain itu perlu disebutkan bahwa tidaklah
berarti semua kemungkinan isomer itu
eksis (ada pada kenyataannya). Sebagai contoh, ada 18 kemungkinan isomer dari
C8H18, tetapi tidak berarti ada 18 senyawa dengan rumus molekul C8H18.
a.
Senyawa butana (C4H10) memiliki dua
isomer dengan sifat fisik yang berbeda.
CH3-CH2-CH2-CH3 titik didih = -0,4°C
n-butana titik
beku = -139°C
CH3 titik beku
= -160,9°C
Isobutana
b.
Senyawa pentana (C5H12) memiliki
tiga isomer dengan sifat fisik yang berbeda.
CH3-CH2-CH2-CH2-CH3 titik didih = 36°C
n-pentana titik
beku = -129,9°C
CH3 titik
didih = -160,5°C
Isopentana
CH3
Jumlah isomer pada alkana dapat ditentukan
dengan cara berikut.
a. Mula-mula tentukan rantai C terpanjang (tanpa cabang).
b. Satu atom C dikurangi untuk membentuk satu cabang metil.
Kemudian, cabang metil ini dipindahkan secara teratur mulai dari atom C
bernomor kecil ke atom C berikutnya. Penomoran ini dapat dilakukan dari ujung
kiri maupun ujung kanan rantai karbon.
c. Kurangi dua atom C untuk membentuk dua cabang metil atau
satu cabang etil. Secara sistematis, kedua cabang metil ini ditempatkan pada
atom C bernomor kecil secara bersamaan.
d. Kemudian, secara bertahap satu cabang digeser ke atom C
berikutnya, sedangkan cabang metil yang lain tetap. Selanjutnya, buatlah cabang
metil baru yang masih memungkinkan. Demikian seterusnya.