1. Keterkaitan Teori mekanika
kuantum dan Teori Orbital Molekul dengan Sifat Gelombang Menurut Louis De
Brouglie
Elektron adalah
partikel yang bermuatan negatif dan beredar di sekitar inti atom. Louis de Broglie mengungkapkan
konsep dualisme materi melalui eksperimen difraksi berkas elektron yaitu
suatu materi memiliki dua sifat sebagai partikel juga sebagai gelombang. Sifat
partikel dan gelombang suatu materi tidak tampak sekaligus, sifat yang tampak
jelas tergantung pada perbandingan panjang gelombang de Broglie dengan
dimensinya serta dimensi sesuatu yang berinteraksi dengannya. Sebagai contoh
petir dengan kilat. Kilat terlebih dulu kita lihat sebelum petir kemudian kita
dengar. Hal ini dapat kita jelaskan bahwa kilat merupakan sifat gelombang
berwujud cahaya sedangkan petir merupakan sifat partikel berupa suara. Fakta
ini salah satu yang mendukung konsep dari dualisme Louis de Broglie. Inilah
yang mendasari munculnya teori mekanika kuantum.
Elektron dalam orbital yang bergerak dengan cepat akan
membentuk suatu awan elektron. Awan elektron ini memberikan deskripsi peluang
terbesar tempat elektron berada. Gerakan elektron pada tiap orbital membentuk
awan dengan pola tertentu misalnya menyerupai bola, bola terpilin atau bentuk
lainnya. Gerakan elektron yang sangat cepat ini membentuk ketebalan yang
berbeda di tiap ruang orbital. Semakin tebal awan elektron semakin besar
peluang elektron untuk ditemukan begitupun sebaliknya.
Pernyataan de Broglie yang
menyatakan bahwa partikel dapat bersifat seperti gelombang telah menginspirasi
Schrödinger untuk menyusun model atomnya dengan memperhatikan sifat elektron
bukan hanya sebagai partikel tapi juga sebagai gelombang, artinya dia menggunakan
dualisme sifat elektron.
Menurut Schrödinger
elektron yang terikat pada inti atom dapat dianggap memiliki sifat sama seperti
“standing wave”, anda bisa membayangkan gelombang standing wave ini seperti
senar pada gitar (lihat gambar). Ciri standing wave ini ujung-ujungnya harus
memiliki simpul sehingga ½ gelombang yang dihasilkan berjumlah bilangan bulat.
Hal yang sama dapat diterapkan apabila kita menganggap elektron
dalam atom hydrogen sebagai “standing wave”. Hanya orbit dengan dengan jumlah ½
gelombang tertentu saja yang diijinkan, orbit dengan jumlah ½ gelombang yang
bukan merupakan bilangan bulat tidak diijinkam. Hal
inilah penjelasan yang rasional mengapa energi dalam atom hydrogen
terkuantisasi.
(lihat gambar)
Schrödinger kemudian mengajukan persamaan yang kemudian dikenal
dengan nama “persamaan gelombang Schrödinger” yaitu :
H? = E?
? disebut sebagai fungsi gelombang, H adalah satu set intruksi
persamaan matematika yang disebut sebagai operator, dan E menunjukan total
energi dari atom. Penyelesaian persamaan ini menghasilkan berbagai bentuk
penyelesaian dimana setiap penyelesain ini melibatkan fungsi gelombang ? yang
dikarakteristikkan oleh sejumlah nilai E. Fungsi gelombang ? yang spesisfik
dari penyelesaian persamaan gelombang Schrödinger disebut sebagai “orbital”
Apakah orbital itu? Orbital adalah daerah kebolehjadian kita
menemukan elektron dalam suatu atom atau bisa dikatakan daerah dimana
kemungkinan besar kita dapat menemukan elektron dalam suatu atom.
Bedakan dengan istilah orbit yang dipakai di
model atom Bohr. Orbit berupa lintasan dimana kita bisa tahu lintasan dimana
elektron mengelilingi inti, tapi pada orbital kita tidak tahu bagaimana bentuk
lintasan elektron yang sedang mengelilingi inti. Yang dapat kita ketahui adalah
dibagian mana kemungkinan besar kita dapat menemukan elektron dalam atom.
Werner Heisenberg menjelaskan secara gamblang
tentang sifat alami dari orbital, analisis matematika yang dihasilkannya
menyatakan bahwa kita tidak bisa secara pasti menentukan posisi serta momentum
suatu partikel pada kisaran waktu tertentu. Secara matematis azas
ketidakpastian Heisenberg ditulis sebagai berikut:
?x . ?(mv) ? h/4?
?x adalah ketidakpastian menentukan posisi
dan ?(mv) adalah ketidakpastian momentum dan h adalah konstanta Plank. Arti
persamaan diatas adalah semakin akurat kita menentukan posisi suatu partikel
maka semakin tidak akurat nilai momentum yang kita dapatkan, dan sebaliknya.
Pembatasan ini sangat penting bila kita
memmpelajari partikel yang sangat kecil seperti elektron, oleh sebab itulah
kita tidak bisa menentukan secara pasti posisi elektron yang sedang
mengelilingi inti atom seperti yang ditunjukan oleh model atom Bohr, dimana
elektron bergerak dalam orbit yang berbentuk lingkaran. Disinilah mulai
diterimanya model atom mekanika kuantum yang diajukan oleh Schrödinger.
Sesuai dengan azaz Heisenberg ini maka fungsi
gelombang tidak dapat menjelaskan secara detail pergerakan elektron dalam atom,
kecuali fungsi gelombang kuadrat (?2) yang dapat diartikan sebagai probabilitas
distribusi elektron dalam orbital. Hal ini bisa dipakai unutk menggambarkan
bentuk orbital dalam bentuk distribusi elektron, atau dikenal sebagai peta
densitas.
Teori
Kuantum Max Planck
Max
Planck, ahli
fisika dari Jerman, pada tahun 1900 mengemukakan teori kuantum. Planck
menyimpulkan bahwa atom-atom dan molekul dapat memancarkan atau menyerap energi
hanya dalam jumlah tertentu. Jumlah atau paket energi terkecil yang dapat
dipancarkan atau diserap oleh atom atau molekul dalam bentuk radiasi
elektromagnetik disebut kuantum. Planck menemukan bahwa energi foton
(kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.
Salah
satu fakta yang mendukung kebenaran dari teori kuantum Max Planck adalah efek
fotolistrik, yang dikemukakan oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Efek
fotolistrik adalah keadaan di mana cahaya mampu mengeluarkan elektron dari
permukaan beberapa logam (yang paling terlihat adalah logam alkali) (James E.
Brady, 1990).
Susunan
alat yang dapat menunjukkan efek fotolistrik ada pada gambar 1.1. Elektrode
negatif (katode) yang ditempatkan dalam tabung vakum terbuat dari suatu logam
murni, misalnya sesium. Cahaya dengan energi yang cukup dapat menyebabkan
elektron terlempar dari permukaan logam.
Elektron
tersebut akan tertarik ke kutub positif (anode) dan menyebabkan aliran listrik
melalui rangkaian tersebut. Percobaan Efek Fotolistrik Memperlihatkan
susunan alat yang menunjukkan efek fotolistrik, Seberkas cahaya yang
ditembakkan pada permukaan pelat logam akan menyebabkan logam tersebut
melepaskan elektronnya.Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif dan
menyebabkan aliran listrik melalui rangkaian tersebut. Sumber: General Chemistry,
Principles & Structure, James E. Brady, 5th ed, 1990.
Einstein menerangkan bahwa cahaya terdiri dari
partikel-partikel foton yang energinya sebanding dengan frekuensi cahaya. Jika
frekuensinya rendah, setiap foton mempunyai jumlah energi yang sangat sedikit
dan tidak mampu memukul elektron agar dapat keluar dari permukaan logam. Jika
frekuensi (dan energi) bertambah, maka foton memperoleh energi yang cukup untuk
melepaskan elektron (James E. Brady, 1990). Hal ini menyebabkan kuat arus juga
akan meningkat. Energi foton bergantung pada frekuensinya.
dengan:
h
= tetapan Planck (6,626 × 10–34
J dt)
c
= kecepatan cahaya dalam vakum (3 ×
108 m det–1)
λ
= panjang gelombang (m)
Hipotesis
Louis de Broglie
Pada tahun 1924, Louis de Broglie, menjelaskan bahwa cahaya dapat berada
dalam suasana tertentu yang terdiri dari partikel-partikel, kemungkinan
berbentuk partikel pada suatu waktu, yang memperlihatkan sifat-sifat seperti
gelombang (James E Brady, 1990). Argumen de Broglie menghasilkan hal sebagai berikut.
Einstein
: E = mc2
Max
Planck :
sehingga
untuk menghitung panjang gelombang satu partikel diperoleh:
ë
= panjang gelombang (m)
m
= massa partikel (kg)
_
= kecepatan partikel (m/s)
h
= tetapan Planck (6,626 × 10–34
Joule s)
Hipotesis
de Broglie terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari elektron.
Elektron mempunyai sifat difraksi seperti halnya sinar–X. Sebagai akibat dari
dualisme sifat elektron sebagai materi dan sebagai gelombang, maka lintasan
elektron yang dikemukakan Bohr tidak dapat dibenarkan. Gelombang tidak bergerak
menurut suatu garis, melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu.
2. Bila terabsorbsi sinar UV oleh
ikatan rangkap meghasilkan promosi elekron ke orbital yang berenergi lebih
tinggi. Transisi elektron manakah yang memerlukan energi terkecil bila
sikloheksena berpindah ke tingkat terektasi?
Pada transisi elektronik inti-inti atom dapat dianggap berada pada posisi
yang tepat. Hal ini dikenal dengan prinsip Franck-Condon. Disamping itu dalam
proses transisi ini tidak semua elektron ikatan terpromosikan ke orbital
antiikatan.
Berdasarkan jenis
orbital tersebut maka, jenis-jenis transisi elektronik dibedakan menjadi empat
macam, yakni:
1) Transisi σ → σ*
2) Transisi π → π*
3) Transisi n → π*
4) Transisi n → σ*
Transisi elektronik
menimbulkan spektra serapan pada daerah sinar tampak dan ultra violet pada
senyawa-senyawa organik. Umumnya dalam molekul poliatomis terutama dalam
molekul organik, orbital pengikatan atom bukan pengikatan di isi sehingga
transisi elektron dengan panjang gelombang terpanjang melibatkan pengikatan
elektron dari orbital molekul tidak terisi yang tertinggi ke orbital molekul
tidak terisi yang terendah.
Mengapa diisebut transisi
elektronik karena elektron yang menempati satu orbital dengan energi terendah
dapat berpindah ke orbital lain yang memiliki energi lebih tinggi jika menyerap
energi, begitupun sebaliknya elektron dapatberpindah dari orbital yang memiliki
energi lebih rendah jika melepaskan energi. Energi yang diterima atau diserap berupa
radiasi elektromagnetik.
Bila 2 orbital
atom bergabung maka salah satu orbital molekul bonding berenergi rendah atau
orbital molekul anti bonding berenergi tinggi dihasilkan. Orbital molekul yang
diasosiasikan dengan ikatan tunggal dalam molekul organik ditandai dengan
orbital sigma dan elektron yang terlibat adalah elektron sigma.
Spektrum gelombang elektromagnetik
dan transisi elektron adalah perpindahan elektron dari orbit yang satu ke orbit
yang lain dengan memancarkan gelombang elektromagnetik. Ketika berpindah dari
orbit yang luar ke orbit yang dalam, elektron akan memancarkan energy sebesar
E=hf, dengan f adalah frekuensi gelombang yang dipancarkan
Energi yang dimiliki sinar UV mampu
menyebabkan perpindahan elektron (promosi elektron) atau yang disebut transisi
elektronik. Transisi elektronik dapat diartikan sebagai perpindahan elektron
dari satu orbital ke orbital yang lain. Disebut transisi elektronik karena
elektron yang menempati satu orbital dengan energi terendah dapat berpindah ke
orbital lain yang memiliki energi lebih tinggi jika menyerap energi, begitupun
sebaliknya elektron dapatberpindah dari orbital yang memiliki energi lebih
rendah jika melepaskan energi. Energi yang diterima atau diserap berupa radiasi
elektromagnetik. Transisi elektronik menimbulkan spektra serapan pada daerah
sinar tampak dan ultra violet pada senyawa-senyawa organik. Umumnya dalam
molekul poliatomis terutama dalam molekul organik, orbital pengikatan atom
bukan pengikatan di isi sehingga transisi elektron dengan panjang gelombang
terpanjang melibatkan pengikatan elektron dari orbital molekul tidak terisi
yang tertinggi ke orbital molekul tidak terisi yang terendah.
Energi yang dimiliki sinar UV mampu menyebabkan perpindahan
elektron (promosi elektron) atau yang disebut transisi elektronik. Transisi
elektronik dapat diartikan sebagai perpindahan elektron dari satu orbital ke
orbital yang lain.
Mengapa diisebut transisi elektronik karena elektron yang
menempati satu orbital dengan energi terendah dapat berpindah ke orbital lain
yang memiliki energi lebih tinggi jika menyerap energi, begitupun sebaliknya
elektron dapatberpindah dari orbital yang memiliki energi lebih rendah jika
melepaskan energi. Energi yang diterima atau diserap berupa radiasi
elektromagnetik.
Berdasarkan mekanika kuantum transisi elektronik yang dibolehkan atau tidak dibolehkan (terlarang) disebut kaidah seleksi. Berdasarkan kaidah seleksi, suatu transisi elektronik termasuk:
1. Transisi diperbolehkan bila nilai ε sebesar 103 sampai 106.
2. Transisi terlarang bila nilai ε sebesar 10-3 sampai 103.
Berdasarkan mekanika kuantum transisi elektronik yang dibolehkan atau tidak dibolehkan (terlarang) disebut kaidah seleksi. Berdasarkan kaidah seleksi, suatu transisi elektronik termasuk:
1. Transisi diperbolehkan bila nilai ε sebesar 103 sampai 106.
2. Transisi terlarang bila nilai ε sebesar 10-3 sampai 103.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar